Banjir Landa Kota Belawan, Aktivitas Pelabuhan Terganggu

Banjir yang melanda Kota Belawan menghambat aktivitas pelabuhan, mengganggu mobilitas barang dan pekerja. Genangan meluas akibat hujan lebat dan air pasang, membuat operasional pelabuhan tidak berjalan optimal.

Hujan deras yang turun hampir tanpa jeda disertai fenomena air pasang membuat Kota Belawan kembali terendam banjir. Wilayah yang berada di pesisir utara Kota Medan ini memang kerap menjadi langganan banjir, namun kali ini dampaknya terasa lebih luas dan lebih berat. Tidak hanya rumah warga yang tergenang air, tetapi juga aktivitas di kawasan Pelabuhan Belawan mengalami gangguan slot.

Banjir yang terjadi sejak dini hari membuat para pekerja pelabuhan kesulitan untuk memasuki area kerja. Genangan yang mencapai betis hingga lutut orang dewasa membuat sebagian besar akses utama menuju pelabuhan terhambat. Kendaraan truk pengangkut kontainer banyak yang tertahan karena tidak dapat melintas di beberapa titik yang terendam parah. Kondisi ini memicu antrean panjang, membuat arus logistik yang biasanya berjalan cepat menjadi tersendat.

Beberapa pengusaha transportasi dan logistik mengaku bahwa keterlambatan pengiriman barang tidak dapat dihindari karena kondisi cuaca yang ekstrem. Selain faktor hujan deras, banjir kali ini diperparah oleh air pasang yang masuk ke permukiman dan kawasan pelabuhan. Tingginya permukaan laut memicu luapan di sejumlah titik yang berdekatan dengan dermaga. Petugas keamanan pelabuhan terpaksa menutup sementara beberapa jalur karena arus air yang cukup deras berpotensi membahayakan pekerja maupun kendaraan.

Banjir di Belawan bukan hanya mengganggu aktivitas pelabuhan, tetapi juga kehidupan masyarakat sekitar. Warga yang tinggal di kawasan padat penduduk seperti Kampung Nelayan, Bagan Deli, dan beberapa kecamatan di Belawan terpaksa mengamankan barang-barang agar tidak rusak terendam air. Sebagian warga bahkan harus mengungsi ke rumah kerabat atau posko sementara yang disediakan oleh aparat setempat. Banyak dari mereka merasa situasi banjir kali ini lebih berat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Di tengah kondisi ini, pemerintah melalui BPBD Kota Medan bergerak cepat melakukan peninjauan. Tim BPBD bersama perangkat kecamatan melakukan pendataan keluarga terdampak, serta menyiapkan peralatan untuk membantu evakuasi warga bila situasi semakin memburuk. Selain itu, petugas juga mulai memetakan lokasi genangan untuk menentukan langkah penanganan jangka pendek seperti pemompaan air dan pembuatan jalur aliran sementara agar banjir dapat lebih cepat surut.

Operasional pelabuhan yang terganggu tentu berdampak pada perekonomian. Pelabuhan Belawan merupakan salah satu pintu utama keluar-masuk barang logistik di wilayah Sumatera Utara. Setiap harinya, ribuan ton barang dikirim dan didistribusikan melalui pelabuhan ini. Gangguan selama beberapa jam saja dapat menimbulkan kerugian besar bagi pelaku usaha, terlebih jika banjir berlangsung lebih lama. Para pekerja pelabuhan juga merasakan dampaknya, karena sebagian dari mereka tidak dapat bekerja sesuai jadwal akibat sulit mencapai lokasi.

Masyarakat pesisir Belawan sebenarnya sudah lama menghadapi permasalahan banjir tahunan. Selain faktor curah hujan yang tinggi, persoalan lain seperti sedimentasi sungai, penurunan permukaan tanah, dan buruknya sistem drainase turut memperparah kondisi. Banyak parit dan saluran air yang tersumbat sampah, membuat air tidak dapat mengalir dengan lancar ke laut. Ketika hujan lebat bertemu dengan fenomena air pasang, banjir pun tak terhindarkan.

Sejumlah aktivis lingkungan dan tokoh masyarakat kembali menyoroti pentingnya normalisasi sungai dan perbaikan drainase. Mereka menilai bahwa solusi jangka panjang harus segera dijalankan, termasuk penataan kembali kawasan pesisir yang sudah terlalu padat. Program-program pencegahan banjir seperti pembersihan saluran, pengerukan muara sungai, hingga pembangunan tanggul tambahan perlu dipercepat agar kejadian serupa tidak terus berulang.

Di sisi lain, warga Belawan tetap menunjukkan solidaritas tinggi. Banyak yang saling membantu membersihkan jalan dari sampah yang terbawa air, mengangkat barang para tetangga, hingga membantu posko logistik. Relawan dari komunitas kemanusiaan juga mulai berdatangan untuk memberikan bantuan berupa makanan siap saji dan perlengkapan kebutuhan dasar bagi keluarga yang terpaksa mengungsi.

Meski hujan telah mulai reda, sebagian wilayah Belawan masih tergenang karena air pasang belum sepenuhnya surut. Proses pemulihan diperkirakan membutuhkan waktu, terutama di daerah yang permukaannya lebih rendah dari garis permukaan laut. Pemerintah terus mengimbau warga agar tetap waspada dan mengutamakan keselamatan, mengingat potensi hujan susulan masih dapat terjadi beberapa hari ke depan.

Peristiwa banjir ini menjadi pengingat bahwa penanganan pesisir tidak bisa dilakukan setengah-setengah. Dengan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya, harapan untuk menjadikan Belawan lebih tangguh terhadap bencana masih sangat terbuka. Yang dibutuhkan kini adalah langkah konkret, keberlanjutan program, dan kepedulian bersama untuk menjaga lingkungan.